Obsesi

Lima belas menit sudah kuhabiskan dengan melamun. Terlihat matahari mulai meninggalkan bukit, membiarkan bulan mengganti posisinya.
Kata – kata yang mereka ucapkan kembali terdengar, 
Kau bodoh atau apa? Bagaimana bisa kau membiarkan dia menghancurkanmu separah ini?’
Yang bisa kulakukan sekarang hanya memeluk kedua lututku dengan erat, lalu menyembunyikan wajahku yang basah karena air mata yang terus mengalir. 
Salahkah, jika aku terobsesi akan rasa sakit yang menghujam dadaku setiap kali aku merindukan raganya?

Comments